Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Selasa, 29 Januari 2013

Seni Modern dan Tradisional di Indonesia: Kontinuitas dan Diskontinuitas dalam Perkembangan Seni

 
现代和传统艺术在印尼:在艺术发展的连续性与非连续性
Современные и традиционные искусства в Индонезии: преемственность и прерывистость в развитие искусства
इंडोनेशिया में आधुनिक और पारंपरिक कला: कला के विकास में निरंतरता और अलगाव


Oleh: Nasbahry Couto

Seperti yang kita ketahui topik seni moderen adalah topik yang paling kontroversial dalam wacana seni Indonesia. Sebab akan menimbulkan pertanyaan, apakah Indonesia sudah menjadi negara moderen seperti Jepang, Korea di Timur atau seperti model Turki, dan Mesir di Barat. Hal ini pernah menjadi polemik dalam sejarah seni Indonesia, misalnya, polemik kebudayaan di antara para cendekiawaan Indonesia, pada tahun 1935—1936. Polemik tersebut mengemuka karena adanya kesadaran perihal bentuk kebudayaan seperti apa yang akan mengisi Indonesia ketika merdeka kelak. Di antara dua pihak yang saling berpolemik, yaitu Sutan Takdir Alisjahbana disatu pihak,  yang menginginkan agar meniru kebudayaan Barat, dengan Sanusi Pane, Poerba Tjaraka, Sutomo, Tjindarbumi, Adinegoro, M. Amir, dan Ki Hajar Dewantara, yang menginginkan menolak seni dan budaya Barat. Dalam kenyataannya, lembaga seni dan budaya tradisi tidak memiliki ruang untuk berkembang. Ibarat “karakok tumbuah di batu” (batang sirih tumbuh di batu), mati tidak, hidup merana.
SAMPAI saat ini para ahli yang masih memperdebatkan apakah sebuah perkembangan ke arah moderen itu merupakan suatu proses yang berkesinambungan atau tidak ? Banyak sekali pendapat ahli yang berbeda – terutama penekanan bahwa perkembangan itu bersifat kontinuitas, dan ada pula yang menekankan bahwa perkembangan itu bersifat diskontinuitas. Perkembangan bersifat kontinuitas (berkesinambungan) maksudnya bahwa perkembangan itu berlangsung secara bertahap dan terus menerus. Perkembangan bersifat diskontinuitas atau tidak berkesinambungan. merupakan proses perkembangan yang melibatkan proses - proses berbeda secara kualitatif.

Perubahan - perubahan yang terjadi dapat secara tiba - tiba dari suatu tahap ke tahap berikutnya. Pokok persoalan ini juga menjadi persoalan dalam konteks pelestarian seni dan budaya serta pencarian karakter bangsa. Dalam hal ini kita dapat masuk ke diskusi paling panas, misalnya seni dan budaya apa yang harus dipertahankan itu sebagai jati diri bangsa dan sekaligus manusia moderen? Perubahan-perubahan bentuk seni itu sangat banyak terjadi dalam sejarah bangsa Indonesia. Budaya-budaya besar seperti dari India dan Cina, Arab masuk ke Indonesia sekaligus membawa anasir seni yang kemudian diserap dan berkembang menjadi bagian dari seni Indonesia. Yang banyak menjadi pertanyaan adalah bagaimana melestarikan kebudayaan itu, hal ini  terkait dengan teori kontinitas dan diskontinuitas  dalam seni.

ARTIKEL TERKAIT



Seperti yang diketahui, sejarah seringkali diartikan sebagai sebuah rangkaian peristiwa berkesinambungan yang dapat disusun kronologisnya secara sinkronik [2]dan diakronik[3]. Pemaknaan tradisional juga cenderung menafsirkan sejarah secara sinkronik dan sebagai kajian tentang relasi kausalitas antara peristiwa terdahulu dengan setelahnya. Merujuk teori kesinambungan, sejarah memang dianggap sebagai sekumpulan wacana yang dilapisi peristiwa yang konstan. Sejarah juga hanyalah penghimpun peristiwa yang menjadi acuan dan pembukti adanya hubungan sejumlah peristiwa. Namun teori ini tidak selamanya dapat dimaknai secara struktural. Teoritikus asal Prancis, Michel Foucault mencoba menolak premis ini.

Dalam bukunya yang berjudul The Order of Things: An Archaeology of the Human Sciences, 1994 (arkeologi ilmu pengetahuan), Foucault menyatakan sejarah tidaklah sesederhana itu. Menurutnya, adanya kemungkinan anomali dan retakan sejarah yang kadang diabaikan oleh sejarawan. Lagipula sejarawan seringkali terjebak dalam hubungan kausalitas sejumlah peristiwa. Retakan ini yang disebut oleh Foucault sebagai diskontinuitas dalam sejarah. Menurutnya diskoninuitas merupakan sesuatu yang ada dalam sejarah namun ditutupi oleh peristiwa lainnya. 

Oleh karena itu, menurut Foucault sejarawan tidak hanya “bertugas” mengurutkan tahun terjadinya peristiwa, namun ia juga harus mengungkap apa yang terselubung di dalam peristiwa tersebut. Selubung itu terbentuk akibat tertutupi oleh tradisi dan konvensi dalam masyarakat. Tradisi, ibarat penyelamat, sekaligus pembelenggu dan pengikat leher seseorang untuk pembenaran sehingga merasa tidak merasa perlu untuk berpikir kritis tentang kebenaran yang menjadi objek sejarah itu, lebih dalam. Bahkan selubung itu untuk objek sejarah itu diperlukan oleh kepentingan politik atau rezim yang berkuasa untuk menghapus “cacat objek sejarah”.

Lebih lanjut, Foucault mencoba mengungkapkan bahwa karya seni seperti karya sastra, drama, film pun juga berperan dalam diskontinuitas. Hal ini terjadi lantaran karya sastra dan film memiliki daya tarik yang besar untuk mengkonstruksi pemikiran seseorang, yang pada akhirnya, mereka tidak ingin menerima adanya sesuatu yang baru yang akan menyempurnakan tradisi yang sudah ada. Menurut Foucault adalah tantangan sejarawan dalam mengungkap diskontinuitas itu agar tidak terjadi kesalahan pemahaman dalam menafsirkan suatu peristiwa. Dengan demikian, kebenaran sejarah dapat diungkap, termasuk adanya intervensi ataupun konstruksi kekuasaan dan atau pengaruh lain dalam dokumen sejarah.[4]

Pendekatan Foucault disebut teori arkeologi ilmu pengetahuan, Foucault[5] sebab mencoba untuk menganalisis kode pokok budaya digunakan untuk membangun episteme atau konfigurasi pengetahuan yang menentukan perintah empiris praktik sosial dari setiap era sejarah tertentu. Dia menerapkan diskontinuitas sebagai alat kerja yang positif. Beberapa wacana akan teratur dan berkesinambungan dari waktu ke waktu sebagai pengetahuan terus menumpuk dan masyarakat secara bertahap menetapkan apa yang akan merupakan kebenaran atau alasan untuk sementara waktu. Namun, dalam transisi dari satu era ke depan, akan ada tumpang tindih, istirahat sejenak dan diskontinuitas dalam masyarakat dalam bentuk reconfigures (rekonstruksi figur) wacana untuk mencocokkannya dengan  lingkungan baru.

Alat ini diberi peran diperluas dalam genealogy -- tahap berikutnya, dari analisis wacana  --  di mana tujuannya adalah untuk memahami total kompleksitas kekuasaan, dan efek yang dihasilkannya,  dia melihat kekuasaan sebagai sarana untuk menyusun identitas individu dan menentukan batas-batas otonomi mereka. Ini mencerminkan hubungan simbiosis antara kekuasaan (pouvoir) dan pengetahuan (savoir).[6] Dari uraian-uraian nanti akan terlihat bahwa yang mengekang dan atau memajukan seni justru dari kedua unsur ini.

Sebagai contoh, dalam studi Foucault tentang penjara dan rumah sakit, ia mengamati bagaimana individu modern baik sebagai objek maupun subjek pengetahuan. Ilmu muncul sebagai sarana mengarahkan dan membentuk kehidupan. Dia memberi contoh tentang,  konsepsi modern tentang seksualitas muncul yang muncul dari kode moral Kristen, ilmu psikologi, hukum, dan strategi penegakan hukum yang diadopsi oleh polisi dan peradilan, dengan cara di mana isu seksualitas dibahas dalam media publik, sistem pendidikan, dll,  ini adalah bentuk terselubung penguasaan (jika tidak penindasan), dan pengaruh mereka dapat ditemukan tidak hanya dalam apa yang dikatakan, tetapi yang lebih penting, dalam apa yang tidak dikatakan: di semua keheningan dan kekosongan, di semua diskontinuitas. Jika satu ide dibahas, maka tidak dibahas, kepentingan siapa dilayani oleh Perubahan Nilai ini?

Menurut Hanafi (2005) Di Indonesia ada tiga model kontinuitas dan diskontinuitas sebagai subyek dari sebuah filsafat antarbudaya berdasarkan pengalaman sejarah masyarakat dan budaya, bukan pada refleksi hipotetis dan murni teoritis. Menurutnya, di Indonesia ada tiga model utama, masing-masing dari mereka mendominasi wilayah budaya spesifik sebagai berikut ini.[7]
(1) model diskontinuitas Barat yaitu antara tradisi dan modernitas,
(2) model diskontinuitas Timur menyandingkan yang lama dan yang baru,
(3) Model perubahan Islam melalui kontinuitas yang ada, misalnya di Asia Tenggara.
Setiap model merupakan cara tertentu negosiasi antara tradisi dan modernitas. Masing-masing dari mereka telah mengembangkan alat khusus untuk modernisasi dan ditandai dengan ketegangan tertentu dan tantangan serta dengan berjuang dengan kemunduran dan ketidakseimbangan masing-masing.

b. Kontinuitas dalam Seni Indonesia
Walaupun teori Foucault ini muncul dikemudian hari, pembahasan-pembahasan  awal tentang kontinuitas dalam seni sudah ada dan  mendahului teori Foucault itu, justru  dalam kerangka teori budaya, yaitu dalam konteks akulturasi budaya (cultural acculturation). [8]
Salah satu buku yang membahas tentang kontinuitas seni di Indonesia adalah buku karangan, Claire Holt yang berupaya melacak kontinuitas sejarah  seni dan kebudayaan Indonesia. Claire Holt adalah seorang wanita kelahiran Riga, Latvia pada tahun 1901. Keluarganya pindah ke Moskow pada tahun 1914, pada tahun 1920 ia menikah, dan tidak lama kemudian dia dan suaminya beremigrasi dari Uni Soviet. Pada tahun 1921 mereka menetap di New York, di mana Holt bekerja di  Brooklyn Law School, Cooper Union Art School, dan Columbia University School of Journalism. Dari tahun 1928-1930, Holt adalah seorang reporter untuk  koran New York World. Tugasnya antara lain menulis tinjauan tari, yang diterbitkan di bawah nama Barbara Holveg.

Holt melakukan perjalanan pertamanya ke Indonesia pada tahun 1930 dan menghabiskan waktu sepuluh tahun di Indonesia, dia belajar tari, bekerja untuk antropolog Willem Stutterheim, dan kemudian membantu juru arsip tari Swedia dan pelindungnya Rolf de Maré dengan foto dan dokumentasi film tari Indonesia. Setelah perang dunia II  membayanginya.  Holt kembali ke Amerika Serikat, di mana dia bekerja  sejak 1940-an dan awal 50-an sebagai asisten penelitian untuk Margaret Mead, sebagai analis penelitian untuk Office of Strategic Services, dan sebagai spesialis urusan luar negeri untuk Departemen Luar Negeri. Dia mengundurkan diri dari dinas pemerintah pada tahun 1953, melakukan protes regulasi keamanan  McCarthy. Sisa hidup Holt dihabiskan mengajar di Cornell University, di mana pada tahun 1962 ia membantu mendirikan Proyek Indonesia Modern. Dia kembali ke Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an, kemudian menyusun buku  pada tahun 1969 yang berjudul Art in Indonesia: Continuities and Change. Yang diterbitkan oleh, Cornell University Press, tahun 1971,  Holt meninggal di Ithaca, New York, pada tahun 1970, jadi dia meninggal sebelum bukunya diterbitkan.[9]

Buku ini sudah diterjemahkan oleh R.M. Soedarsono (2000) berjudul  Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia, (Bandung: Arti.line MSPI). Mengenai Seni Plastis Bali: Tradisi dalam Perubahan. Ia menggunakan bahan yang amat luas, mulai data arkeologi sampai relief-relief. Buku ini terdiri atas tiga bagian: warisan, tradisi yang hidup, dan seni modern. Setiap bagian merupakan periode tersendiri dalam sejarah seni Indonesia, dari zaman prasejarah hingga seni rupa Indonesia pada paruh pertama abad ke-20. Holt (1901-1970) mampu menyajikan argumentasi, ada benang merah yang tak terlihat antara lukisan-lukisan di dinding gua di Pasemah dan lukisan Sudjojono.

Holt, Claire, (1971) memang meletakkan Sudjojono sebagai titik sentral perkembangan senirupa modern di Indonesia. Memang, kalau melihat sejarah seni rupa Indonesia, boleh dibilang Sudjojono termasuk sebagai salah satu peletak dasarnya.[10]

Holt sewaktu melakukan perjalanan Indonesia untuk mempelajari tari Nias, sumber Foto. Dances Of Sumatra And Nias: Notes By Claire Holt, 1939.
















c. Aspek Kontinuitas dan Diskontinuitas Seni Lukis Bali
Seperti yang diketahui, kesenian Bali bertautan erat dengan upacara agama Hindu yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Bali. Semua bentuk kesenian di Bali pada  awalnya  untuk menunjang dan mengabadikan kehidupan upacara keagamaan Hindu Bali. Begitu pula pada kehidupan seni lukisnya yang juga memiliki  peran  besar pada  upacara agama Hindu di tempat-tempat pemujaan yang terdapat di seluruh pelosok daerah Bali. [11]
Namun, budaya Bali sekarang adalah hasil akulturasi budaya lokal dan budaya yang datang dari luar, dan hal itu berpengaruh kepada ragam gaya dan ornamen seni  Bali, yang terlihat pada  seni arsitektur, seni tari, pakaian dan seni rupanya.

Mengenai pencampuran kebudayaan ini  dapat disebut progresif, inovatif  (diskontinuity)  dan dapat pula sebagai penyempurnaan yang lama (kontinuity) Tumbuhnya elemen kebudayaan yan  baru itu bisa terjadi karena dua kemungkinan, yaitu karena ada penemuan (inovasi) dan atau karena karena adanya pencampuran (akulturasi). Kontinuitas seni dan budaya bali bisa terjadi  akibat proses akulturasi dan disebabkan oleh karakter masyarakat Bali yang sangat terbuka, namun kreatif. Ada pandangan bahwa pengaruh dari luar seperti apapun setelah jatuh ke tangan seniman Bali selalu akan berciri Bali. [12]   Bahwa dengan ‘keterbukakaan kreatifnya’  masyarakat Bali mampu menyelaraskan kebudayaan luar yang masuk dan disesuaikan dengan kekayaan seni dan budaya setempat.

Pada awalnya, Bali dipengaruhi unsur dari luar yang tidak terelakkan sebagai penyebaran agama Hindu dari India ke kawasan Indonesia, termasuk ke Bali. Claire Holt (1971) menjelaskan, bahwa penyebaran ini dibawa langsung oleh para pendeta atau biarawan dari India, yang berhubungan dengan perdagangan maupun kerajaan-kerajaan di Bali, dan juga sebagai pengaruh kerajaan Hindu di Jawa. Hal itu diperkuat dengan kontak-kontak masyarakat Bali dengan Cina, dan beberapa daerah di India Belakang (Asia Tenggara). Beberapa faktor itu, mungkin telah menyumbangkan pembentukan kebudayaan Bali dan termasuk seninya, khususnya seni lukis.

Menurut data arkeologis, seni rupa prakolonial Bali adalah warisan dari tatanan ideo-religius budaya agraris Hindu-Buddha yang berkembang di Bali sejak paling sedikit abad ke-10, ketika didirikan kerajaan-kerajaan yang "bercorak India" yang pertama. Sementara seni lukis baru dikenal sekitar abad ke-11, ketika sejumlah prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Anak Wungsu, yang memberikan tanda adanya kaula kerajaan yang memiliki kepandaian melukis. Dalam analisa Jean Counteau, seorang antropolog dari Perancis, ragam budaya pra-penjajahan Bali, adalah campuran gaya lokal dengan aneka unsur Jawa, yang terutama setelah adanya penyerangan kerajaan Majapahit tahun 1343 ke Bali.

Bentuk seni rupa di Bali mengalami perkembangan yang berbeda dengan daerah di Jawa. Bentuk perubahan ini bersifat sebagai penyesuaian terhadap karakter orang Bali yang ekspresif, yang kasar dalam lelucon, serta bersungguh-sungguh; mewah dengan warna-warna emas dan terang: musiknya, walaupun kaya dan melodis, adalah karakteristik eksplosif (meledak-ledak). (Claire Holt, 245). Dalam pandangan Alvin Boskoff  ada dua teori tentang perubahan sosial budaya, yaitu teori-teori eksternal dan internal. Teori eksternal memandang bahwa inti terjadinya perubahan budaya disebabkan oleh adanya kontak antar-budaya berbeda, sedangkan perubahan internal disebabkan oleh adanya dorongan perubahan dari dalam masyarakat itu sendiri [13] Untuk menguatkan pandangan di atas, William A. Haviland mengemukakan bahwa mekanisme yang terlibat dalam perubahan kebudayaan antara lain adalah akulturasi.[14] Seiring perkembangan kebudayaan dan pengaruh dari luar tersebut, maka berkembang pula teknis penciptaan, bentuk, fungsi dan makna dari lukisan tradisional Bali.[15]

Dari tulisan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kontinuitas yang dimaksud adalah dari segi tematik seni , dan perubahan (akulturasi) adalah dari segi teknis berkarya. Kemudian  sesuai dengan topik  ini, timbul pertanyaan dimana letaknya aspek perubahan yang ada pada budaya dan seni Bali? Hal ini diterangkan secara samar oleh  Kadek Suartaya (2008) dalam tulisannya yang bertajuk Teater "Happy Ending" Bali dengan mengatakan sebagai berikut ini.
Gejala kesenjangan antara masyarakat Bali dengan bentuk-bentuk teater yang dulu berpengaruh kuat di tengah masyarakat mungkin yang kini bereskalasi dalam wujud kekeringan nurani. Moral happy ending yang disuguhkan dalam pertunjukan teater sepertinya tak menjadi rujukan lagi dalam teater kehidupan nyata di tengah-tengah masyarakat Bali masa kini. Kembali, tengok konflik-konflik sosial yang jarang tuntas terselesaikan secara rekonsiliatif, happy ending. Diskontinuitas moral seni dan praktik kehidupan kian menganga..[16]
d. Diskontinuitas Lembaga Sosial Seni (Kasus Kesenian Istana)Dari sudut pandang kelembagaan seni, kita melihat dua pola dalam kesenian di Indonesia (1) seni tradisional (2) seni moderen. Yang dimaksud dengan kesenian tradisonal  menurut Wiyoso Yudosaputro (2005) ada dua bentuk, pertama yang berasal dari rakyat jelata, dan yan kedua dari keraton. Oleh karena itu, ditinjau dari segi bentuk kelembagaan seni tradisional-moderen  kita dapat melihat dua pola kelembagaan seni, seperti yang digambarkan indrayuda (2013), dikontinuitas itu dapat diperlihatkan pada gambar . 1
Hal ini dijelaskan lebih rinci oleh Indrayuda (2013) sebagai berikut.
Seperti contohnya dalam tradisi keraton Yogyakarta seperti sekarang ini, pelembagaan produksi dan distribusi berbentuk lembaga keabdileman yang disebut kawedanan hageng punakawan Kridhamardawa. Dalam lembaga produsen itu terdiri dari para abdi dalem dengan berbagai macam profesi, dari seniman pencipta, pekerja kreatif, pelaku sampai pada pembantu pelaksana seni. Mereka terhimpun dalam satu wadah yang mempunyai fungsi dan tugasnya sendiri-sendiri untuk mencapai satu tujuan yaitu perintah raja mencipta, memelihara, dan mengembangkan kesenian. Untuk memberikan satu gambaran pentingnya pengelolaan atau kontrol terhadap para abdi dalem seniman itu dibutuhkan manajemen atau kepemimpinan. Sekarang sifat kontrol langsung dari sultan lebih dikuasakan kepada para pemimpin atau pengageng. Mereka itu terdiri dari putra sultan, sehingga melalui cara itu dapat dilihat sifat-sifat patrimonial yang ideologinya tetap kawula-gusti, yakni bangsawan-bangsawan itu sebagai wakil sultan sendiri, yang secara tradisional ada di tingkat tertinggi dalam stratifikasi sosial itu. Dalam kategori sejarah kapitalis dan teknokratis, dengan munculnya patron baru, skemanya menjadi dua jenis arah yang mempunyai sifat hubungan horizontal patron-konsumen.  Seniman mencipta karya seni sebagai karya baru untuk kepentingan konsumen. Arahnya datang secara realis dari si seniman. Namun disisi lain dapat datang dari konsumen sebagai patron baru memesan seni/karya kepada si Seniman. Pada dasarnya seniman baru ini hidup secara bebas dengan patron baru yakni kelas menengah atau pasaran. Sifat-sifat profesionalisme baru berbeda dengan profesionalisme tradisional. Apabila profesionalisme lama (tradisi) bersumber pada patronnya yaitu raja yang bersifat hirarki, profesional baru didukung oleh adanya pasaran seni, yaitu berasal dari dan hidup dalam kelas yang sama dengan patronnya (kelas menengah), sehingga profesionalisme baru menjadi profesionalisme modern yang pada dasarnya mempunyai kebebasan kreatif lebih besar dari profesionalisme.




Gambar 1 Diskontinuitas dalam kelembagaan seni, seni yang tadinya untuk kelembagaan yang berbentuk feodal (di keraton) (pola I), sekarang masuk ke bentuk kelembagaan yang bersifat komersil (pola II), sumber Indrayuda, 2013.

Lisa Clare Mapson (2010),  justru melihat institusi atau kelembagaan  seni seperti sekolah seni serta institusi seni ikut yang ikut berperan dalam diskontinuitas itu seperti yang dikatakannya.






...Perubahan  ini  berpotensi  mengasingkan  atau  menjauhkan  kesenian  dari kebudayaan aslinya, karena bentuk-bentuk lokal yang berkaitan dengan kisahan dan sejarah  lokal  terancam  hilang.  ‘Ketika  bentuk  ISI  menjadi  dominan,’  Davies menjelaskan  dengan merujuk  kepada  kasus tari Legong, Bali, ‘tariannya  bertahan lebih  sebagai  contoh  museum.’  Apalagi,  baik  di  ISI  maupun  sekolah  umum, kesenian  yang  kaya  unsur-unsur  mistis,  agama  atau  sejarah  dikurangi  menjadi kesenian murni, tanpa ikatan kepada kebudayaan aslinya. Hanya di desa, jauh dari tatapan  wisatawan,  perbedaan  berdasarkan  gaya  lokal  dan  unsur-unsur  spiritual dipertahankan, di mana pertunjukkan ‘mengalir di antara perbatasan tertembus dari alam semesta spiritual dan duniawi, melanggar peraturan nasional.’ Diskontinuitas ini mewakili perubahan yang sedang terjadi dalam kesenian di Indonesia, dipertajam oleh  keberadaan  wisatawan  asing  dan  status  kesenian  Bali  sebagai  daya  tarik wisatawan tersebut.[17]

Mapson, Lisa Clare (2010) juga menjelaskan peran kelembagaan ini, misalnya kasus ‘Pencurian’ Reog Ponorogo, oleh negara Malaysia, untuk kepentingan  pariwisata,  adalah salah satu bentuk diskontinuitas dalam seni dan budaya antar bangsa. Bagi pihak Malaysia diskontinuitas ini mungkin hal penting, sebaliknya bagi Indonesia dianggap merugikan, karena melanggar hak cipta. Contoh lain: Jika tayangan "baronsai" diperagakan di Sinkawang atau Padang, tidak ada protes dari negara Cina, karena dianggap meniru barongsai Cina. Jadi pengertian diskontinuitas dapat diberi makna positif dan makna negatif, tergantung tujuan dan cara melihatnya.


Kontinuitas antara seni Barat (Abstrak) dan seni Timur (kontemplasi) dalam seni lukis, Ahmad Sadali. “Gunungan”, adalah filsafat pewayangan membuat orang merenungkan hakekat, asal dan tujuan hidup, manunggaling kawula Gusti (hubungan gaib antara dirinya dengan Tuhan), kedudukan manusia dalam alam semesta, dan sangkan paraning dumadi (kembali ke asal) yang dilambangkan dengan tancep kayon oleh sang dalang pada akhir pagelaran. Konon kata kayon berasal dari bahasa Arab “khayyu” yang berarti hidup. Kayon atau Gunungan adalah pembuka dan penutup pagelaran wayang kulit.

Kontinuitas Seni Barat di Indonesia
Agus Sachari, (2006), melihat peranan lembaga seni (dalam hal ini pendidikan) dalam menjaga kontinuitas seni, khususnya perkembangan seni dari Barat. Hal ini terlihat dari tulisannya yang bertajuk “Mazhab Bandung, Menggilas sebuah Aliran”, dia berpendapat bahwa mashab Bandung adalah kontinuitas berkesenian dunia (Ero-merika), seperti yang dikatakannya: [18]
Generasi pengembang dalam bidang kesenirupaan sebagai benang merah kesinambungan falsafah kesenirupaan universal diantaranya AD Pirous, Imam Buchori, Yusuf Affendi, Kaboel Suadi, Srihadi Soedarsono, G.Sidharta, Soedjoko, Widagdo, Sanento, Primadi, Rita W, Adjat Sakri, Wiyoso, dan lain-lainnya. Kemudian generasi selanjutnya diikuti oleh Umi Dachlan, Abay Subarna, Sunaryo, Surya Pernawa, Hariadi, Sutanto, dan lain-lainnya, mengalami proses transformasi lanjut adanya kesinambungan budaya dari generasi sebelumnya.


Pengaruh estetik universal yang dipelajari dari pelbagai negara semasa menempuh pendidikan pasca sarjana, baik di negara-negara Eropa maupun Amerika, kemudian dicangkokkan ke dalam pendidikan kesenian profesional. Hal itu disadari sebagai usaha untuk menjadikan senirupa Indonesia menjadi bagian penting perkembangan seni dunia. Namun demikian, warna lokal yang telah menjadi kekayaan bangsa Indonesia selama berabad-abad, tetap menjadi sumber inspirasi yang penting.

Para mahasiswa yang belajar di ITB, secara bertahap mengenal Sejarah Kebudayaan Dunia, Sejarah Senirupa Asia, Senirupa Islam, Teori Senirupa Modern, serta cabang cabang ilmu kesenirupaan, dan pelbagai hal yang sebelumnya diperoleh secara terbatas di dalam negeri. Namun demikian, tidak semua yang diperoleh dari pendidikan lanjut itu diterapkan dalam praktik, melainkan mengalami proses pencangkokkan dan proses “Indonesiasi” yang terus menerus. Kita kemudian bisa mengenal “diri” dimana posisi seniman Indonesia dalam peta kesenian dunia, serta dimana posisi kebudayaan Indonesia di tengah-tengah percaturan Asia.
Kesinambungan dan kontinuitas itu kemudian mengambil bentuk dengan terjadinya pluralisme dalam seni, sebagai berikut ini. Tetapi hal ini akan menimbulkan pertanyaan, apakah memang ujung dari gaya seni kontemporer selalu berakhir dengan pluralisme ? Seperti yang dikatakannya.
Ketika generasi perintis mulai uzur, Mazhab Bandung pada generasi kritis mengalami proses pemantapan melalui pelbagai terobosan alternatif berekspresi seni kontemporer, diantaranya Gaya ‘Realisme Kritis’, ‘Realisme Kerakyatan’, Sensualitas, Seni Massa, Dekonstruksifis hingga Pop (Vulgaristik), ‘Multi Eklektik’, ‘Green Design’, ‘Posmo’, dan pelbagai gaya yang diadopsi dari kebudayaan dunia kritis menjadi bagian kehidupan berekspresi. Di paruh kedua tahun 90-an, Para pengajar, seniman, para mahasiswa, di lingkungan pendidikan senirupa ITB mengalami kebebasan yang luar biasa dalam menentukan gaya. Mazhab Bandung yang berdomisili di lingkungan kampus ITB mengalami pergeseran ke arah Multi Kultur, Multi Disiplin dan Pluralitas secara radikal. Beberapa seniman dan perupa generasi kebebasan ini, diantaranya Tisna Sanjaya, Setiawan Sabana, Maman Noor, Hendrawan Riyanto, Asmudjo Irianto, dan lain lainnya. Dalam bidang desain sejak akhir tahun 90-an, juga muncul generasi baru yang lebih bebas dari pemikiran aliran Bandung ‘posstrukturalis’, diantaranya Yasraf Amir Piliang, Duddy Wiyancoko, Rizki Zaelani, dan lain-lain.

Sachari (2006) tidak membahas bagaimana  diskontinuitas seni yang terjadi dalam konteks  kelembagaan (mazhab Bandung) ini. Namun secara samar dia menjelaskan adanya diskontinuitas dalam seni  dan peran tokoh (actor/aktor) dalam menjaga diskontinuitas itu sebagai berikut ini.
Sejak But Mukhtar “dipindah” dan menjabat rektor ISI-Jogyakarta, tidak tertutup kemungkinan Mazhab Bandung juga mengalami proses metamorfosa dalam bentuk lain di Yogyakarta, baik dalam bentuk kebijakan (konsorsium seni), atmosfir berkarya dan keterbukaan informasi. Hal itu terbukti dari semakin dinamisnya gaya-gaya seni modern hidup di kota ini, disamping tumbuhnya tradisi akademis yang kuat. (Agus Sachari, 2006) [19]
Peran kelembagaan terhadap Seni dalam Islam

Indonesia sebagai masyarakat penganut agama Islam terbesar di Asia Tenggara tentu saja juga terlibat dengan masalah seni dan budaya, yang berorientasi ke Islam. Bagaimanakah Islam dalam kaca mata seni moderen? Bagaimanakah peran lembaga-lembaganya? Menurut hemat penulis, diskontinuitas  dalam seni boleh jadi dapat berasal dari lembaga-lembaga sosial politik dan keagamaan dan aktor-aktor yang ada di dalamnya. Misalnya lembaga-lembaga agama dan dan jaringan kekuasaan diantaranya (sesuai dengan teori Foucault  yang berperan (1) kekuasaan dan yang kedua (2) ilmu pengetahuan (ideologi yang dianutnya).

Menurut Danusiri (2013) dalam Mengkaji Seni dalam Islam  akan selalu terbentur, karena terdapat pro dan kontra di kalangan Islam sendiri ( menurut penulis adalah aliran-aliran/mashap dalam kelembagaan Islam sendiri). Sebab, sampai sekarang belum ada lembaga Islam apapun juga yang secara formal dan sistematis melakukan kajian seni secara menyeluruh, termasuk perihal  filosofis atau filsafat seni Islam, yang  dapat merumuskan nilai seni menurut pandangan Islam -- yang diakui secara kelembagaan, antara lain teori (sejarah, struktur, dan klasifikasi: apakah ada seni Islam ataukah hanya ada seni muslim), praktik (kajian tentang teknik-teknik perbidang), dan apresiatif (kritik seni yang mengkaji perkembangan seni Islam dalam hubungannya dengan perkembangan masyarakat muslim) yang mengatasnamakan lembaga seni Islam (di Indonesia).  Umumnya inti pendirian kelompok ini menyatakan bahwa Seni Islam itu tidak ada, dan yang ada adalah orang Islam yang berseni.
Menurut Danusiri (2013), sebagian umat Islam atau bisa disebut seniman muslim bersemangat menunjukkan berbagai dalil ‘aqliyah’ (rasional) bahwa Alquran sendiri mengandung nilai seni yang amat tinggi dan bahwa musabaqah tilawatil qur’an telah digelar di mana-mana secara demonstratif. Demikian juga seni kaligrafi Islam-Arab, maupun naqliyah (teks yang bersumber dari Alquran maupun as-Sunnah; Alfaruqi, 1999: v-vi) menjelaskan tentang keindahan sebagai buah karya seni. Inti pendirian kelompok ini adalah seni merupakan salah satu dari kandungan atau jangkauan Islam. Dalam tulisan Danusiri, dinyatakan bahwa seni Islam itu ada. Namun konflik ide seni dalam kelembagaan Islam ini tidak dapat terhindarkan, disebut oleh Danusiri sebagai berikut.[20]
... Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan yang memiliki misi: (1) Menegakkan keyakinan tauhid yang murni; (2) Menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber kepada Alquran dan as-Sunnah’ dan (3) Mewujudkan amal Islami dalam kehidupan pribadi keluarga, dan masyarakat (Sukaca, 2008 : 4), menghindarkan penyakit TBC+S [tahayyul, bid’ah, khurafat, dan syirik) menimbulkan efek pemiskinan kebudayaan, termasuk di dalamnya seni sehingga secara luas Muhammadiyah kurang diminati oleh masyarakat awam luas.Muhammadiyah akan mendapat respon di kalangan masyarakat luas jika mampu mencipta karya seni apa saja, khususnya seni musik yang merakyat, namun tidak bertentangan dengan syariat.


Kawan-kawan di NU mampu berbuat itu. Mereka sangat adabtatif, mampu menggunakan instrumen yang mestinya bukan alirannya, namun diaransemen demikian apik. Instrumennya campursari tetapi gubahan iramanya padang pasir. Instrumen karawitan dikolaborasi dengan samrah atau sebaliknya dapat  mencipta karya seni yang dapat dinikmati orang awam. Hanya saja karena saking luwesnya, aspek akidah kurang menjadi pertimbangan penting sehingga sebuah karya seni sering dikritik oleh mereka yang berasal dari Muhammadiyah sebagai sesuatu yang berbau syirik.
Namun lembaga di bawah Naungan NU melihat dengan cara lain sebagai berikut ini.[21]
Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah. Asembagus, Situbondo,  KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy ternyata mempuyai pandangan  yang “netral” tentang seni. Menurutnya, seni musik bisa dimanfaatkan untuk sarana dakwah. Dakwah bisa dilakukan lewat mana saja asalkan tidak bertentangan dengan syariat Islam. “Karena bahasa Islam itu universal, sehingga bisa disampaikan lewat bahasa seni juga” tukasnya saat mengunjungi Studio Musik Purwacaraka di Kaliwates belum lama ini.[22]
Kandungan  Ideologi Seni Islam: Imitasi  Realitas Seni dalam Islam, Tashwir (Gambaran), Shuwar (Gambar)
Sebenarnya penganut agama Islam telah menyadari keindahan itu ada di alam, seperti keindahan yang ada pada bunga, daun-daunan, pemandangan alam, kecantikan manusia dan sebagainya. Mereka menyadari bahwa keindahan itu adalah ciptaan Tuhan. Namun dalam menggambarkan kembali keindahan alam itu menjadi masalah karena terdapatnya  “keyakinan” adanya larangan, terutama  dalam hadits-hadits  Agama Islam. Pandangan ini disebut dengan "iconoclastik", sebagai lawan dari "iconografik" (ide imitasi yang terdapat pada Yunani Klassik, Kristen, Hindu dan sebagainya). Secara umum diketahui bahwa Islam melarang  pembuatan patung-patung maupun lukisan manusia karena alasan penyembahan berhala (paganisme). Dalam masyarakat  Islam banyak dijumpai larangan itu secara langsung maupun tidak langsung, bahwa “peniruan bentuk alam atau ikon” itu di haramkan.
Lavoix pada tahun 1859, adalah orang pertama yang menjelaskan bahwa Al Qur’an sendiri sebenarnya tidak mengatur hal-hal yang berhubungan dengan penggambaran atau seni lukis [23]. Dalam Sunnah Rasul memang ada beberapa hadits yang isinya menentang pembuatan gambar atau lukisan makluk hidup. Hadits-hadits tersebut dan penafsirannya tidak akan dikemukakan dalam tulisan ini, dan perlu dilihat realitas penafsiran larangan ini dalam sejarah seni Islam -- bahwa di awal-awal kebudayaan Islam  ternyata seni lukis itu tidaklah dilarang. Seni lukis tetap tumbuh dalam peradaban Islam meskipun mendapat tantangan oleh masyarakat Islam sendiri yang menumbuhkan seni lukis ini. Terutama kalangan atas dan golongan kaum berada. [24]) Dan kita menemukan bahwa hanya  sedikit hadits yang dipergunakan oleh para ahli hukum sebagai penjelasan atau penafsiran tentang larangan itu, tidak membolehkan atau tidak mengizinkan melihat, memiliki dan pembuatan citra makhluk hidup. Sedangkan dalam Al-Qur’an sendiri tidak ada larangan itu (lihat pula tulisan  Abdul Hadi W. M.(2011) dalam situs http://wangsadita.org/pemikiran-awal-estetika-seni-lukis-dalam-islam/.
Ahmad Muhammad Isa (1981), dalam tulisannya tentang Muslim dan Tashwir, sampai pada kesimpulan bahwa diantara  hadits Nabi ada yang bertentangan penafsirannya oleh orang-orang terdahulu, namun tidak seorangpun yang dapat mengatakan secara jelas maupun tersirat, bahwa Alquran memberi larangan terhadap tashwir.[25] Tidak dapat diingkari bahwa seni Islam dipengaruhi oleh pandangan para ulama yang berpegang pada larangan membuat gambar. Pandangan demikian adalah rintangan bagi  seniman untuk membuat gambar manusia dan binatang. Akibatnya karya-karyanya menjadi kaku, kering dan jauh dari kemiripan alam.   terdapat sedikit kritik Ahmad Muhammad Isa, bahwa penolakan oleh sebagian besar umat Islam itu, terhadap gambar dan seni patung telah merugikan umat Islam sendiri  seperti yang dikatakannya :
“ Karena agama kristen sejak semula telah memanfaatkan pemakaian gambar (shuwar) untuk meluaskan ajarannya dan membawa ajaran itu dari suatu tempat  ke tempat lain lewat cara gambar-gambar yang mempunyai arti simbolis (rusum), maka gambar-gambar itu telah melestarikan ajaran-ajaran agama dalam seni, dan dengan demikian betul-betul dibutuhkan sebagai pelukisan ajaran-ajarannya. Seni itu dapat dipakai untuk membawakan arti  Injil, dan lebih mudah melekat dalam pikiran dan lebih mudah dipahami oleh orang-orang, seni dipakai untuk menggambarkan kejadian-kejadian penting dalam agama Kristen dan kehidupan rasul dan pendeta. Dapatlah disebut dengan aman, bahwa hingga abad ke 8 Masehi, tidak pernah ada muncul suatu penentang atau kekhawatiran akan kembalinya paganisme atau pemurtatan dari agama Kristen.”[26]
Sebagai kompensasi dari keadaan ini menurut Ahmad muhammmad Isa, seniman muslim beralih pada motif-motif dekoratif yang bercorak floral dan geometris. Para seniman Muslim sangat terlatih dengan ornamen seperti ini dan menggunakan dekorasi untuk menghiasi  berbagai objek seni. Seni rupa ini oleh orang Barat disebut dengan “Arabesque”, sesuai dengan asal dari ornamen itu.
Namun demikian Ahmad Muhammad Isa menyimpulkan dari kenyataan yang memperlihatkan bahwa  umat Islam akhirnya tidak mempersoalkan larangan dalam hadits, sejauh itu tidak bertentangan  dengan ajaran islam yang merepresentaikan makhluk hidup untuk tujuan pemujaan.  Beberapa kesimpulan Isa adalah  sebagai berikut :
  1. Kaum Muslim tidak takut  pada penggambaran makhluk hidup, dalam sejarah diperlihatkan oleh seniman Islam yang  menghiasi Istana raja di masa Al-Walid I (92-96)
  2. Kaum Muslimin telah menggunakan gambar-gambar dan lukisan untuk menghiasi karpet, furniture, gelas, piala, bendera dan berbagai bahan lainnya seperti kayu, logam, gading dan sebagainya. Dan ini  juga sudah berlaku sejak lama sekali. Kecendrungan ini menghasilkan seni rupa yang memiliki karakteristik Islam, menghasilkan lambang-lambang atau simbol bentuk yang bercorak Islami.
  3. Dari semua pandangan, diyakini bahwa gambar-gambar maupun patung tidak mempunyai kaitan apa-apa dengan masalah halal dan haram, sebagaimana yang telah diperselisihkan oleh  para fuqaha. Sesungguhnya pembuatan gambar maupun patung adalah suatu bidang keahlian yang mampu meninggikan jiwa, karya yang dapat meninggikan kecerdasan manusia dalam peradabannya.[27]
  4. Bahwa sebenarnya ada kontinuitas seni dalam Islam, terjadinya diskontinuitas disebabkan oleh dasar filosofi yang dianut lembaga-lembaga dalam masyarakatnya. Namun dalam praktik, kontinuitas dan konsistensi seni Islam itu sebenarnya ada, hal ini  dapat dilihat dalam sejarah Islam, Wiki (2013), menggambarkannya sebagai berikut ini.
...Seni rupa Islam adalah seni rupa yang berkembang pada masa lahir hingga akhir masa keemasan Islam. Rentang ini bisa didefinisikan meliputi Jazirah Arab, Afrika Utara, Timur Tengah, dan Eropa sejak mulai munculnya Islam pada 571 M hingga mulai mundurnya kekuasaan Turki Ottoman. Walaupun sebenarnya Islam dan keseniannya tersebar jauh lebih luas daripada itu dan tetap bertahan hingga sekarang. Seni rupa Islam adalah suatu bahasan yang khas dengan prinsip seni rupa yang memiliki kekhususan jika dibandingkan dengan seni rupa yang dikenal pada masa ini. Tetapi perannya sendiri cukup besar di dalam perkembangan seni rupa modern. Antara lain dalam pemunculan unsur kontemporer seperti abstraksi dan filsafat keindahan. Seni rupa Islam juga memunculkan inspirasi pengolahan kaligrafi menjadi motif hias. Dekorasi di seni rupa Islam lebih banyak untuk menutupi sifat asli medium arsitektur daripada yang banyak ditemukan pada masa ini, perabotan. Dekorasi ini dikenal dengan istilah arabesque. Peninggalan seni rupa Islam banyak berbentuk masjid, istana, ilustrasi buku, dan permadani[28]



Gambar  Contoh seni kontemporer Islam, apakah sebagai kontinuitas atau diskontinuitas ? Bangsa Arab, sangat konvensional dalam berseni, namun pada masa kini telah terjadi perubahan:  Pameran Seni Kontemporer Pertama di Arab Saudi: kiri adalah Instalasi 'Street Pulse' karya seniman Arab Saudi, Ahmad Angawi, kanan adalah Sebuah karya instalasi ditampilkan dalam pameran seni kontemporer 'We need to talk' yang digelar di Furusia Marina, Jeddah, Senin (23/01/2012). Foto: REUTERS/ Susan Baaghil ditampilkan dalam pameran seni kontemporer 'We need to talk' di Jeddah, Senin (23/01/2012). Foto: REUTERS/ Susan Baaghil. [29]

e. Diskontinuitas akibat Moderenisasi seni: kasus Opera Van Java
Fenomena munculnya OVJ (Opera Van Java) adalah sebuah kasus yang menarik, bukan hanya sekedar tontonan. Tetapi dapat dipakai sebagai ilustrasi bagaimana teknik pengembangan seni tradisi dan pembaruannya. Banyak yang menganggap bahwa OVJ adalah sebuah model kontinuitas atau malah sebaliknya justru merusak seni tradisi.[30]. Tayangan tersebut menarik perhatian masyarakat Jawa yang tersebar se antero dunia. Kita dapat memahami bagaimana tayangan ini memanfaatkan dari esensi seni wayang. Dan tayangan Opera Van Java bisa menjadi inspirasi bagi budayawan bagaimana mengembangkan wayang ke bentuk baru yang inovatif.


Gambar Jingle iklan Opera van Java di siaran televisi

Penutup


a)   Masalah kontinuitas dan diskontinuitas adalah masalah pokok dalam seni Indonesia, yang erat hubungannya dengan topik pelestarian budaya, modernitas, dan inovasi seni berdasarkan tradisi. Indonesia mau menjadi negara moderen atau negara kuno dan statis masih disikapi mendua sampai sekarang (ingat polemik kebudayaan, 1936).
b)  Namun yang menjadi pertanyaan penting lainnya, oleh karena demikian banyaknya ragam seni dan budaya  di Indonesia yang akan dijaga kontinuitas dan diskontiunitas seninya bukankah lebih praktis dengan mengawinkannya dengan budaya baru dan  memodernkannya tanpa meninggalkan ciri asli, seperti yang terjadi di Bali? Menurut Wiyoso Yudosaputro (2005) [31] Ada lima elemen pokok seni Indonesia, diantaranya adalah (1) kesenian masyarakat asli suku Indonesia, (2) kesenian Hindu-Budha yang datang dari India, dan Asia (3) Kesenian Islam, (4) Kesenian semasa kolonial Belanda, (4) dan kesenian moderen (baru). Kelima unsur itu  tumpang tindih dalam peta sejarah seni Indonesia. Sedangkan kesenian moderen dan kontemporer,  hanya dikenal dikota-kota besar, yang memiliki lembaga-lembaga pendidikan seni, dan juga komunikasi dengan dunia luar, yang menumbuhkan kesenian moderen itu, terutama komunitas-komunitas seni, yang bersentuhan dengan kebudayaan Barat
c)   Peran kelembagaan atau institusional, sangat besar terhadap munculnya  kontinuitas dan diskontinuitas dalam seni dan budaya. Oleh karena itu, kontinuitas dan diskontinuitas seni yang dipermasalahkan bukan hanya muncul dari dari segi konflik kepentingan kelembagaan, tetapi dari segi ideologi seni lembaga itu.
d)  Untuk dapat terjadinya kontinuitas dalam pekembangan seni, seyogyanya lembaga seni di Indonesia, meniru model sekolah seni di Jepang – yang justru tidak memperseterukannya, tidak mempertentangkannya --dimana sekolah-sekolah seni membagi diri menjadi dua jurusan yaitu jurusan seni moderen dan jurusan “seni tradisional lokal”, sehingga kedua unsur itu tidak saling merusak dan atau mengganggu.

Catatan Kaki


[1] Lihat tulisan Michel Foucault (1926-1984), discontinuity and continuity mencerminkan aliran sejarah dan fakta bahwa beberapa "hal-hal yang tidak lagi dirasakan, dijelaskan, diungkapkan, ditandai, diklasifikasikan, dan dikenal dengan cara yang sama" dari satu era ke depan . (1994).
[2] Berkenaan dng pendekatan thd bahasa dng melihat perkembangan sepanjang waktu; bersifat hitoris
[3] Terjadi atau yang ada pada waktu yang sama atau memiliki periode yang sama atau fase
[4] Kelebihan  buku ini, memberikan pandangan baru bahwa sejarawan harus lebih “teliti” dalam mengungkapkan fakta-fakta sejarah yang tak terungkap. Secara berkesinambungan dari bab ke bab, ia memberi penjelasan konsep-konsep diskontinuitas dan bagaimana sejarah dapat dan perlu ditilik hingga akar-akarnya. Pembahasannya yang mendalam kiranya mampu memuaskan dahaga para skeptis dan pecinta postmodernis untuk membedah dan menemukan manfaat yang tertuang dalam buku ini.
[5] Lihat karangan Foucault, M. The Order of Things: An Archaeology of the Human Sciences. Vintage; Reissue edition (1994) ISBN 0-679-75335-4
[6] Lihat juga Foucault, Michel. Arkeologi Pengetahuan. Terj. Mochtar Zoerni. Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2002.
[7] Hanafi, Hassan dalam jurnal Asian Journal of Social Science, Volume 33, Number 3, 2005 , pp. 384-393(10).
[8] Akulturasi adalah suatu proses di mana anggota dari satu kelompok budaya mengadopsi keyakinan dan perilaku dari kelompok lain. Meskipun akulturasi biasanya ke arah kelompok minoritas mengadopsi kebiasaan dan pola bahasa kelompok dominan, akulturasi dapat timbal balik - yaitu, kelompok dominan juga mengadopsi pola khas dari kelompok minoritas. Asimilasi dari satu kelompok budaya ke lain dapat dibuktikan dengan perubahan preferensi bahasa, adopsi sikap umum dan nilai-nilai, anggotanya panggul pada kelompok sosial umum dan lembaga-lembaga, dan hilangnya identifikasi politik atau etnis tersendiri.
[9] Buku yang lebih lengkap tentang ini lihat di Perpustakaan Nasional Australia, yaitu situs: http://trove.nla.gov.au/result?q=%22%20Art,%20Indonesian%22 
[10] Lihat juga Dances of Sumatra and Nias: Notes, artikel karangan Claire Holt (1971)
[11] Lukisan dianggap sebagai dasar dan bentuk ekspresi kesenian tinggi di Bali. Karya seni tersebut menjadi artefak yang sangat berharga dalam kehidupan ritual dalam tradisi Bali.
[12]  Istilah tersebut memiliki pengertian sebagai kemampuan kebudayaan setempat (local) dalam menghadapi pengaruh kebudayaan asing pada waktu kedua kebudayaan itu berhubungan. Sebagai akibat dari hubungan itu terjadilah suatu proses akulturasi (Noerhadi Magetsari, 1986).lih. Noerhadi, Magetsari. 1986. Local Genius dalam Kehidupan Beragama, dalam Kepribadian Budaya Bangsa. Jakarta: Pustaka Jaya
[13] Lihat Alvin Boskoff, “Recent Theories of Social Change” dalam Warner J. Cahnman dan Alvin Boskoff, ed., Sociology and History (London: The Free Press of Glencoe, 1964), 143-147.
[14] Willian A. Haviland, Antropologi, jilid. 2, terj. R.G Sukadijo (Jakarta: Erlangga, 1988), 253.
[15] Sucitra, Arya (2012) telah membahas selintas tentang pokok permasalahan proses akulturasi estetis antara seni lukis Bali klasik gaya Kamasan dengan persentuhan pengetahuan seni rupa modern yang diperkenalkan pelancong Barat yang masuk melalui proses kolonisasi penjajahan Belanda pada awal abad ke-20 sehingga selanjutnya akan ditemukan varian-varian turunan seni rupa di Bali dan dengan segala perbedaan konsep, tema, material lukis hingga teknis penciptaannya. Perpaduan ini kemudian melahirkan seni lukis Pitamaha yang berkembang pesat pada era 1930-an di desa Ubud, Gianyar Bali.  Lihat selengkapnya dalam Sucitra, Arya ( 2012) Transformasi Seni Rupa Bali, Pita Maha ‘Koalisi’ Estetis Seni Lukis Klasik Bali dengan Seni Rupa Modern, pada situs http://karyajurnal.blogspot.com/
[16] Lihat: http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaindex&kid=15&id=7270
[17] Lihat tulisan Kesenian, Identitas, dan Hak Cipta: Kasus ‘Pencurian’ Reog Ponorogo,
Lisa Clare Mapson, Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies, (ACICIS)
Angkatan 30, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang, Juni 2010, http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/field_topics/lisa_mapson.pdf
[19] Ibid. 2006
[20]  Lihat : Pandangan Islam Tentang Seni, oleh M. Danusiri Dosen DPK UNIMUS dari IAIN Wali 9 Semarang, dlam  http://danusiri.dosen.unimus.ac.id/materi-kuliah/fbba/pandangan-islam-tentang-seni/
[21] Dalam situs resmi NU, Tentang eni Budaya, butir 9.disebutkan 9. Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia disingkat LESBUMI, bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama dibidang pengembangan seni dan budaya.
[23])  Orang pertama yang menunjukkan , bahwa larangan terhadap lukisan bukan berasal dari Al-Qur’an, akan tetapi dari hadits, adalah Lavoix pada tahun 1859, dalam ‘les Peintures musulmans,” hal.353-354
[24])  Abdul Jabbar Beg , 1981. Seni Dalam Peradaban Islam, Bandung, hal.7..
[25] ) Op.Cit.1981: 44 
[26]) Op.Cit.1981:55
[27]) Abdul Jabbar Beg , Hal.71-72 
[28] .sumber: Wikipedia, Seni Rupa Islam, 2013
[29]  Untuk pertama kalinya, pameran seni kontemporer dibuka untuk publik di Arab Saudi. Bertempat di Furusia Marina, Jeddah, pameran bertajuk 'We need to talk' tersebut menampilkan 50 karya 22 seniman Saudi. Salah satu karya yang ditampilkan adalah instalasi berjudul 'Food for Thought'. Karya ini terdiri dari ratusan kaset ceramah agama yang direkam dan didistribusikan pada 80-an ketika Saudi mengalami gelombang ekstremisme religius. Sejak 2008, kelompok 'Edge of Arabia' yang berada di balik pameran tersebut telah menggelar pameran serupa di sejumlah kota dunia, di antaranya London, Dubai, Venice, Istanbul dan Berlin. (Foto: REUTERS/ Susan Baaghil)
[30]  Aktor,  Parto Patrio alias Eddy Soepono nampaknya melejit dan tayangannya mendapatkan rating tinggi. Bermula dari tayang seminggu sekali, lalu meningkat seminggu dua kali, kini program komedi Opera Van Java (OVJ) muncul lima kali dalam sepekan. Itu menandakan acara milik Trans7 tersebut makin digemari pemirsa. Acara yang diadopsi dari beberapa unsur wayang yakni orkesta gamelan (yang diadaptasi keluar filsafatnya), dalang, karakter-karakter punakawan mendominasi meski telah jauh dari filsafat punakawan
[31] Lih Wiyoso Yudosaputro, Historiografi seni Indonesia, 2005, Bandung: pen. ITB. Wiyoso (alm), adalah dosen Seni Rupa UPI dan ITB Bandung, pernah menjadi Dekan fak Seni Rupa di IKJ Jakarta.